Benarkah Kelebihan Lemak Tubuh Membuat Otak Menyusut ?

kelebihan lemak tubuh

Orang yang memiliki kelebihan berat badan atau kelebihan lemak tubuh rentan terkena penyakit, mulai dari serangan jantung hingga stroke. Mereka juga kerap dikaitkan dengan gaya hidup yang tidak sehat. Orang dengan kelebihan lemak juga dikaitkan dengan penyusutan otak, terutama mereka yang memiliki rasio pinggul dan pinggang yang besar.

Penelitian yang dipublikasikan Januari 2019 ini oleh Neurology, jurnal medis dari American Academy of Neurology menjelaskan, lemak tubuh ekstra, terutama di bagian tengah tubuh, dapat dikaitkan dengan penyusutan otak.

Untuk penelitian ini, para peneliti menentukan obesitas dengan mengukur Indeks Massa Tubuh (BMI) dan rasio pinggang-pinggul pada para peserta penelitian dan menemukan mereka yang memiliki rasio yang lebih tinggi dari kedua ukuran memiliki volume otak terendah.

BMI adalah rasio berat dan tinggi yang ditentukan dengan membagi berat badan seseorang dengan kuadrat tinggi badan mereka. Orang dengan BMI di atas 30,0 dianggap obesitas.

Rasio pinggang-pinggul ditentukan dengan membagi lingkar pinggang dengan lingkar pinggul. Orang dengan perut lebih besar dibandingkan pinggulnya memiliki rasio yang lebih tinggi. Pria di atas 0,90 dan wanita di atas 0,85 dianggap obesitas sentral.

Penelitian kelebihan lemak tubuh

“Penelitian yang ada telah mengaitkan penyusutan otak dengan penurunan daya ingat dan risiko demensia yang lebih tinggi dan penelitian kami mengamati sekelompok besar orang dan menemukan obesitas, khususnya di bagian tengah, mungkin terkait dengan penyusutan otak,” kata penulis penelitian Mark Hamer dari Loughborough University di Leicestershire, Inggris.

Studi ini mengamati 9,652 orang dengan usia rata-rata 55 tahun. Dari kelompok ini, 19 persen mengalami obesitas. Para peneliti mengukur BMI, rasio pinggang-pinggul dan kelebihan lemak tubuh secara keseluruhan.

Para peneliti kemudian menggunakan pencitraan resonansi magnetik untuk menentukan volume otak. Terdapat dua warna materi yang dibagi di berbagai wilayah otak yaitu putih dan abu-abu.

Materi abu-abu mengandung sebagian besar sel-sel saraf otak dan termasuk daerah otak yang terlibat dalam pengendalian diri, kontrol otot dan persepsi sensorik. Materi putih mengandung ikatan serat saraf yang menghubungkan berbagai daerah di otak.

Setelah menyesuaikan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi volume otak, seperti usia, aktivitas fisik, merokok, dan tekanan darah tinggi, para peneliti menemukan, mereka yang memiliki BMI tinggi dikaitkan dengan volume otak yang sedikit lebih rendah.

Secara khusus, para peneliti menemukan, 1.291 orang yang memiliki BMI tinggi dan rasio pinggang-pinggul yang tinggi memiliki volume otak materi abu-abu terendah yaitu rata-rata 786 sentimeter kubik.

Sementara 3.025 orang dengan berat badan sehat memiliki volume otak rata-rata materi otak 798 sentimeter kubik dan 514 orang dengan BMI tinggi tanpa rasio pinggang-pinggul yang tinggi memiliki volume otak materi abu-abu rata-rata 793 sentimeter kubik. Peneliti tidak menemukan perbedaan signifikan dalam volume otak materi putih.

“Penelitian kami sementara menemukan obesitas, terutama di bagian tengah tubuh, dikaitkan dengan volume otak materi abu-abu yang lebih rendah, tidak jelas apakah kelainan pada struktur otak menyebabkan obesitas atau jika obesitas menyebabkan perubahan-perubahan ini di otak. Kami juga menemukan hubungan antara obesitas dan penyusutan di daerah-daerah tertentu di otak,” jelas Hamer

Dikutip dari CNN, Cara Bohon, seorang asisten profesor di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Fakultas Kedokteran Universitas Stanford menjelaskan, penelitian sebelumnya juga menemukan hal yang sama tetapi dengan sampel yang lebih sedikit.

“Satu penemuan yang sangat menarik adalah bahwa, di antara individu dengan obesitas, mereka yang memiliki rasio pinggang dan pinggul yang lebih besar (penanda lemak di sekitar perut), menunjukkan volume materi abu-abu yang bahkan lebih rendah. Hubungan antara penurunan volume otak dan lemak perut ini dapat menunjukkan bahwa faktor-faktor peradangan dan vaskular mungkin sedang terjadi,” jelas Bohon.

You may also like